Rabu, 05 Januari 2011

Metode Pengolahan Limbah Styrofoam

Kemasan makanan sampai saat ini masih menjadi salah satu sumber terbesar pemasok sampah bagi lingkungan hidup. Salah satu masalah utamanya adalah banyak jenis bahan kemasan pembungkus makanan tersebut merupakan bahan-bahan yang sulit terurai secara langsung oleh alam apabila dibuang langsung ke lingkungan. Seperti plastik, styrofoam, botol plastik dan lain-lain.
Styrofoam misalnya, menggunakan bahan ini sebagai pembungkus makanan menimbulkan masalah yang cukup memprihatinkan bagi lingkungan. Styrofoam bukan barang yang bisa didaur ulang, seperti gelas, kertas, atau metal, yang dapat didaur ulang menjadi material mentah untuk dibuat kembali menjadi barang serupa. Yang tidak kalah penting, styrofoam tidak bio-degradable atau tidak bisa hancur oleh mikroorganisme di udara dan di dalam tanah.
Selama ini metode yang digunakan untuk mengurangi sampah styrofoam adalah pembakaran lewat incinerator. Padahal pembakaran styrofoam dapat menghasilkan gas karbon dioksida, gas karbon monoksida, dan gas CFC yang dapat merusak lapisan ozon. Belum ada cara yang aman, efektif, dan mudah untuk memecahkan masalah menumpuknya sampah styrofoam yang tidak bisa hancur tersebut.
Namun, baru-baru ini dua orang pelajar kita berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan memperoleh medali perak pada Olimpiade Proyek Lingkungan Internasional Eropa-Asia Ke-2 (INEPO Euroasia), yang dilangsungkan di Baku, Azerbaijan, pada 1-6 April bulan lalu, dengan mengusung tema ini. Adrienne Trinovia Sulistyo dan Vici Riyani Tedja, siswi grade XII IPA SMU Santa Laurensia, Alam Sutra, Tangerang, berhasil mengharumkan nama bangsa lewat proyek penelitian mereka yang berjudul "Pengolahan Limbah Styrofoam Melalui Proses Kimiawi Sulfonasi dan Proses Biologi Tradisional dengan Ekstrak Kulit Jeruk".
Di bawah bimbingan tim guru dari Santa Laurensia, keduanya melakukan penjelajahan literatur, termasuk dari Internet, dan beberapa percobaan di laboratorium untuk melakukan pengujian. Temuan pertama mereka, ekstrak kulit jeruk ternyata dapat melumerkan styrofoam karena kulit jeruk mengandung zat yang disebut d-limonene. Selama ini d-limonene, yang terdapat di hampir seluruh jenis jeruk, sudah sering dimanfaatkan sebagai cairan pembersih dan pelarut. D-limonene terbukti efektif menyingkirkan minyak, oli, gemuk, lilin parafin, dan lainnya. "Tapi pemanfaatannya sebagai pelarut sampah bahan polystyrene belum pernah ada," kata Adrienne.
Dalam percobaan mereka, Vici dan Adrienne menghaluskan kulit jeruk dalam blender dan memerasnya untuk mengeluarkan ekstrak yang mengandung d-limonene. Cairan ekstrak kulit jeruk ini dipakai untuk merendam styrofoam yang sudah dipotong kecil-kecil sepanjang 3 sentimeter. Selama perendaman, potongan styrofoam terus diaduk. "Hasilnya, potongan styrofoam perlahan mengecil sampai akhirnya lumer dan air ekstrak menjadi kental," ujar Adrienne.

Pada saat lumer itulah styrofoam aman dibuang dan dapat diurai oleh mikroorganisme tanah atau udara karena sudah berada dalam kondisi molekul rendah. Penggunaan ekstrak kulit jeruk juga tidak menyebabkan polusi bagi lingkungan karena berasal dari sumber alami.
"Kulit jeruk yang sebenarnya termasuk sampah juga mudah didapat karena merupakan by-product atau produk sampingan dari industri atau konsumsi jeruk," katanya. "Jadi kita mengatasi sampah dengan sampah."
Kedua gadis ini juga mengembangkan cara lain untuk menghancurkan sampah styrofoam, yaitu memakai proses kimiawi. Dalam proses yang disebut sulfonasi ini, styrofoam yang sudah dipotong-potong dicampur dengan klorofom dan asam sulfur. Campuran ini didiamkan selama dua jam dalam suhu 45 derajat Celsius sampai berubah menjadi larutan PSSNa. Lewat proses pemisahan dan netralisasi memakai sodium hidroksida (NaOH), larutan ini akan menghasilkan serbuk polimer setelah dikeringkan.

Walaupun lebih rumit, metode pengolahan styrofoam secara kimiawi ini bukan hanya agar aman dibuang, tapi juga menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi. "Serbuk polimer PSSNa yang dihasilkan bisa digunakan sebagai bahan super-plastifier dalam industri semen, sebagai bahan polimer dalam pemrosesan air bersih, dan lainnya," kata Adrienne.
Walaupun demikian hal ini perlu penelitian yang lebih lanjut untuk dapat dimanfaatkan sebagai salah satu proses pengolahan limbah styrofoam. Mengurangi penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan makanan juga merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah limbah styrofoam ini.

1 komentar:

Bintari Rarastiwi on 21 Januari 2014 pukul 17.38 mengatakan...

Adrienne Trinovia Sulistyo dan Vici Riyani Tedja, boleh saya menghubungi kalian. Saya sgt tertarik dg penemuan briliant yang kalian lakukan. mohon merespon melalui email ke rarastw@yahoo.com atau bintarir@gmail.com

Posting Komentar

 

My Blog List

Followers

Recommended Gadget

  • ads
  • ads
  • ads
  • ads

Masieh Adha Adjah Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal